19.3.13

Concrete Expression in Stockholm


















Klik gambar untuk membuka lokasi googlemap

Travel Videolog --Helsinki 2013

Ini adalah pertama kali saya serius menggarap travelog berbentuk video photomotion. Sebenarnya ini adalah kompilasi dari seluruh foto yang saya dan sekar ambil ketika kami melakukan perjalanan ke Helsinki pada Maret 2013. Semua foto yang saya ambil langsung dimasukkan semua kedalam timeline, hanya diexclude foto-foto berorientasi landscape saja.

Saya mengerjakan keseluruhan proses compiling dan editing diatas software Adobe Premier. Sebelumnya saya pikir untuk sekedar membuat video stop motion tidak perlu sampai menggunakan Premier, yang notabene software kelas pro untuk film editing, saya hanya perlu software sederhana open source yang dedicated untuk keperluan ini. Saya menemukan Monkey Jam, namun sayang ternyata program ini tidak bekerja seperti yang saya harapkan. Masih banyak bugs dan rupanya tidak tahan untuk pengerjaan berat dan file-file yang agak besar. Akhirnya jadilah saya menggunakan Adobe Premier.

Konsepnya sangat sederhana, saya hanya perlu mengatur masing-masing gambar agar muncul sesuai dengan interval yang saya harapkan untuk menjadikannya gambar bergerak ditambah dengan urutan sesuai dengan waktu diambilnya foto sehingga memberikan dimensi perjalanan waktu sejak tiba hingga pulang dari Helsinki. Disepanjang perjalanan, saya banyak mengambil foto sekuensial (burst mode), sehingga dalam beberapa bagian film, bagian tersebut menjadi animated --seperti video. Saya lebih senang mengambil adegan menggunakan burst mode ketimbang video, dengan burst mode saya bisa mendapatkan foto demi foto setiap adegan, ketimbang bentuk video yang sudah ajeg dan ukurannya besar. Ketika saya membutuhkan gambar bergerak, saya bisa merangkainya dalam sebuah photomotion seperti ini. Tentu saja dengan begini saya tidak mendapatkan suara dari gambar yg diambil. 


17.3.13

Human and Interaction

Ilustrasi dari buku Understanding Comics karya Scott Mc Leod, dengan jeniusnya dia dapat mengilustrasikan hubungan antara alat dan kesadaran dalam kerangka interaksi manusia.

Manusia memiliki kemampuan yang hebat dalam menggunakan alat. Tidak seperti hewan yang memiliki cakar tajam dan paruh untuk mengoyak daging, manusia dapat menggunakan pisau untuk memotong dan mengontrol penuh pisau tersebut seperti anggota tubuhnya sendiri. 

Contoh lainnya adalah kendaraan, manusia dapat mengendarai mobil seolah-olah mobil itu seperti bagian tubuhnya sendiri. Manusia dapat memacu mobil dengan sangat cepat tanpa kehilangan kontrol. Ketika mobilnya diserempet oleh kendaraan lain, manusia dapat merasakan getarannya dan memperkirakan bagian mana dari mobilnya yang rusak. 

Satu contoh lagi, orang tuna netra dapat menggunakan tongkatnya untuk membantu berjalan. Tongkat miliknya telah menjadi perpanjanjangan indranya untuk merasakan tekstur pedestrian, mengetahui apakah ada rintangan didepannya, apakah ada genangan air dsb.

Hipotesa saya adalah semua itu berkaitan dengan kemampuan tangan kita untuk merasakan getaran yang terhalus dari alat yang kita pegang, dan kemudian kerja otak yang akan mensimulasikan atau menerima alat tersebut menjadi bagian dari kesadaran manusia. Saya sudah memikirkan tentang hal ini sejak lama, saya merasa pemikiran tentang hal ini akan menuntun kita lebih jauh untuk memahami interaksi manusia dengan lingkungan buatan. Kita lihat akan sejauh mana ini berkembang.

New Design Book


















Dua hari lalu saya berjalan-jalan ke toko second hand Myrorna di Skarholmen. Niat awalnya saya ingin cari double bed untuk di apartmen baru, sambil lihat-lihat ternyata saya beruntung menemukan dua buku ini di bagian second hand book. Saya bilang beruntung karena, pertama jarang ada buku second berbahasa Inggris disini, kedua, tambah jarang lagi ada buku desain.

Buku yang pertama adalah "The Design of Everyday Things" karya Donald A. Norman buku yang lumayan jadul, ditulis tahun 1988 cetakan 1990 kemudian dicetak beberapa kali, yang terakhir tahun 2002. Ini membuktikan konten nya masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Membaca judul dan covernya langsung membuat saya tertarik. Saya menaruh perhatian pada desain hal-hal kecil disekitar kita, yang banyak orang tidak menyadari, namun sebenarnya sangat penting karena tingkat interaksi kita yang tinggi dengan hal-hal tersebut. Saya mendapatkan buku ini dengan harga 20 kr, cetakan barunya dibanderol 74 kr di Amazon, jadi saya cukup bahagia :)

Buku kedua adalah "An Outline of European Architectecture" karya Nikolaus Pevsner. Buku ini terdapat dalam daftar bacaan wajib mahasiswa di Architectural Association, London. Sesuai dengan judulnya buku ini berisi tentang perkembangan arsitektur di Eropa mulai dari abad pertengahan hingga masa modern. Saya mendapatkan buku ini dengan harga 30 kr, edisi barunya dicetak tahun 2009 dijual dengan harga 160 kr. Jadi kembali saya berbahagia :)

edit:
Saya menemukan presentasi dari Donald A. Norman pada sebuah sesi Ted
http://www.ted.com/talks/don_norman_on_design_and_emotion.html
Selamat menikmati.

15.3.13

Arsitek dan Pembangunan Paska-Bencana

Bencana alam dan perang memberi banyak ruang bagi arsitek dan planner untuk mewujudkan ide-ide eksperimental mereka.

Corbusier dan arsitek-arsitek modernis lainnya memanfaatkan momentum pasca pertang dunia pertama untuk mengajukan konsep penataan kota yang modern dan membuat perumahan massal bagi korban perang. Sebagai contoh adalah Unite d'Habitation. Setelah perang banyak orang yang kehilangan tempat tinggal, hal ini merupakan momentum yang baik bagi pemerintah untuk menata ulang seluruh kota.


















Hal yang sama terjadi pula di Aceh. Paska tsunami tahun 2004, banyak tanah yang tidak jelas batas-batas kepemilikannya lagi, pagar-pagar tercabut, surat-surat tanah hilang terbawa arus atau bahkan pemiliknya yang sudah meninggal dunia. Pemerintah harus mencatat klaim kepemilikan tanah dari orang-orang yang selamat, dan mencocokkannya dengan arsip yang masih bertahan untuk diberikan relokasi tanah yang senilai. Hal ini dapat dilihat sebagai peluang untuk pemerintah untuk menata kembali kota dengan membuat rencana jangka panjang yang baru.

Penataan yang saya maksudkan disini adalah redesain kota secara menyeluruh dengan memperhatikan aspek-aspek kebencanaan. Hal ini diperlukan untuk meminimalisir kerugian ketika bencana terjadi kembali. Dan yang lebih penitng lagi, hal ini dapat dijadikan preseden bagi kota-kota lainnya yang memiliki potensi kebencanaan.

Momentum pemulihan paska-bencana juga dapat digunakan untuk memperkenalkan teknologi bangunan baru pada masyarakat. Pada gempa di Bantul-Klaten tahun 2009, diperkenalkan konstruksi kubah beton monolit sebagai solusi dari rumah tahan gempa. Metode pembangunan kubah beton pertama kali ditemukan oleh Dante Bini pada tahun 1960an. Metode konstruksi ini dipilih karena memiliki banyak keunggulan dibandingkan bangunan konvensional. Bangunan konvensional membutuhkan 200% - 300% lebih banyak beton, 300% - 400% lebih banyak pertulangan baja dan dua kali lebih banyak tenaga kerja dibandingkan dengan pembuatan bangunan kubah beton dengan ukuran yang sama, dengan nilai tambah konstruksi kubah beton lebih tahan terdahap bencana gempa. 

Ada beberapa metode yang dikembangkan untuk membuat konstruksi kubah beton ini, sang penemu, Dante Bini mendirikan perusahaan dan mematenkan metodenya dengan nama BiniShell. Ada pula NGO Internasional yang bernama Domes for The World Foundation (DFTW) yang membuat menamakan metodenya sebagai Ecoshell. Yang mana mereka dengan baik hati menyediakan booklet petunjuk pembuatan kubah sederhana di sini. Ide kubah beton sebagai metode alternatif konstruksi rumah merupakan ide yang sangat menarik, jika ada waktu dan minat, mungkin nanti saya akan mengulasnya dalam satu artikel.

Tabel perbandingan kebutuhan material dan luas ruangan yang dihasilkan antara konstruksi konvensional dan konstruksi kubah beton.





















10.3.13

Aestethics

Aesthetics (also spelled æsthetics) is a branch of philosophy dealing with the nature of artbeauty, and taste, with the creation and appreciation of beauty.[1][2] Wikipedia.org
Pada waktu kuliah saya diajarkan tentang Estetika Bentuk, yang mana mempelajari bagaimana menyusun komposisi bentuk sehingga menjadi indah. Sedangkan bagaimana memaknai keindahan itu sendiri diserahkan pada masing-masing mahasiswa untuk menafsirkannya. Kemudian ditransformasikan menurut persepsi dosen kedalam bentuk angka (nilai, score). Tidak ada seorangpun yang memberi tahu saya apa itu sebenarnya definisi keindahan. Padahal sejatinya keindahan menurut tiap-tiap orang itu berbeda. 

5.3.13

Memaknai Nō dan tradisi

Ketika membaca sebuah buku, saya senang ditemani Ipad. Karena ketika membaca tentang suatu tempat atau peristiwa, saya bisa langsung mencari gambarnya di browser. Ini sangat membantu saya dalam membentuk mental image dalam rangka memahami secara utuh pemikiran sang penulis.

Saya saat ini sedang membaca In Praise of Shadow, sebuah buku karya Junichirō Tanizaki. Dalam satu bagiannya Tanizaki membicarakan panjang lebar tentang keindahan seni theater tradisional dari Jepang yang bernama Nō. Kemudian saya jadi penasaran untuk cari di Youtube. Tidak habis pikir saya dimana letak keindahannya. Terlebih Tanizaki melukiskannya sampai memiliki daya tarik seksual.

Whenever I attend the Nō I am impressed by the fact that on no other occasion is the beauty of the Japanese complexion set off to such advantage -- the brownish skin with a flush of red that that is so uniquely Japanese, the face like old ivory tinged with yellow. (Tanizaki, Junichirō, In Praise of Shadow, p.37)

Kemudian di daftar video rekomendasi Youtube, saya menemukan video tentang tarian kontemporer Jepang. Disatu sisi, ada orang-orang yang masih menjalankan tradisi, namun disi lain ada orang-orang yang dengan bebas berekspresi, yang pada akhirnya diberi label seni modern. Saya jadi berpikir, seni tari dan teater sedikit banyak memiliki kemiripan dengan arsitektur. Setiap penari muda dihadapkan pada pilihan apakah meneruskan tradisi kebudayaannya ataukah berkreasi secara bebas?

Hegel percaya bahwa seni merupakan representasi dari kebudayaan pada saat seni tersebut dibentuk. Jika berpegang pada ini, maka seharusnya biarlah tradisi yang sudah lewat menjadi mati, jika memang harus demikian. Kita hidup pada masa sekarang seharusnya bisa belajar dari kebudayaan lampau untuk mensintesa produk-produk kebudayaan masa kini yang seyogyanya lebih unggul dari masa sebelumnya.

Akan tetapi salah satu hal yang mencirikan abad ini adalah diversitas. Kemajuan teknologi informasi menyediakan banyak alternatif wawasan bagi manusia untuk berkreasi, dan pada akhirnya menghasilkan produk kebudayaan yang sangat beragam. Tidak terkecuali dalam menyikapi tradisi. Pada akhirnya memang masing-masing orang akan menempaeti posisinya masing-masing. Ada yang menari tradisional dan ada pula yang menari modern, dan ada pula yang menari sekehendak hatinya sendiri.

2.3.13

In Praise of Shadow

Cover buku edisi UK yang saya pinjam dari perpustakaan kota Stockholm. Image courtesy of Amazon.com
Saya mengetahui tentang buku ini dari daftar bacaan wajib mahasiswa tahun pertama di Architectural Association, London. Kemudian saya beruntung menemukan buku ini di perpustakaan kota Stockholm. Untuk hitungan buku dengan judul yang berat, ternyata buku ini cukup ringan, hanya 56 halaman. Dan saya menemukannya di kategori filosofi!

Membaca buku ini membuat kita dapat membayangkan alam pikiran orang Jepang. Orang jepang sangat sensitif dengan material.

Di satu bagian tanizaki menerangkan bagaimana perbedaan orang barat dan orang timur dalam memandang batu berharga. Disatu sisi orang barat senang dengan kristal yang digosok hingga bercahaya, memancarkan sinar, sedangkan orang Jepang justru menyenangi batu kristal yang tidak murni, ada mineral-mineral didalamnya dan orang Jepang juga tidak mengasahnya sampai halus, melainkan mereka biarkan kasar, seperti proses alam yang membentuknya. 

Membaca buku ini membuat saya terbayang desain dari Super Potato. Interior desainer dari jepang yang banyak menggunakan material alami dalam desain restorannya.


Grand Hyatt Hotel Tokyo courtesy of Super Potato


Buku ini menceritakan bagaimana sensitifitas orang Jepang terhadap lingkungannya. Bagaimana dia terganggu dengan lantai keramik ala barat yang keras, dingin dan berkilap dibandingkan dengan lantai kayu ala rumah tradisional Jepang yang hitam, agak kotor dan berbau khas. Bagaimana sang penulis lebih memilih penerangan lilin yang temaram ketimbang lampu elektrik yang terang benderang. Karena hanya dibawah cahaya lilin, kualitas senenarnya dari ruangan, peralatan makan pernis (lacquareware) akan muncul kualitas keindahannya.

Kendati bukan seorang arsitek maupun desainer, Tanizaki banyak membicarakan elemen-elemen dari sebuah bangunan, interior, maupun desain produk semata-mata mengandalkan kepekaannya terhadap lingkungan yang dia tinggali sehari-hari.

Membaca buku ini akan membuat kita menengok pada diri kita sendiri. bagaimana kita melihat hubungan antara kebudayaan kita dengan kebudayaan barat. Apakah kita merasakan kerisauan yang sama dengan saudara tua kita?

tautan buku dijital: 
http://dcrit.sva.edu/wp-content/uploads/2010/10/In-Praise-of-Shadows-Junichiro-Tanizaki.pdf

Zeitgeist: the spirit of our time

Overlay grid peta Surakarta dan silikon prosessor, macro vs micro, courtesy of The Verge and GoogleMap combined by myself


Zeitgeist is the intellectual fashion or dominannt school of thought that typefies and influences the culture of a particular period of time.
Mungkinkah di abad informasi ini tidak ada satu pemikiran yang mendominasi? masing-masing ide bisa tumbuh dan berkembang. 
Mungkinkah abad ini adalah abad yang demokratis, dimana tidak ada satu pemikiran yang mendominasi?
Jika memperhatikan trend, hal yang paling mencolok dalam abad ini adalah perkembangan teknologi komputer. Pertambahan inti prosesor yang berlipat ganda setiap tahun meningkatkan kapasitas komputasi komputer. Masuknya komputer dalam segala sisi kehidupan manusia. Mulai dari komputer meja, komputer jinjing, Smartphone, Tablet, hingga Google Glass. Gadget yang semakin ringan, tipis dan canggih. Harga yang semakin murah membuat penetrasi teknologi sukses mencapai lapisan bawah masyarakat.
On the other hand, Hegel believed that art reflected, by its very nature, the time of the culture in which it is created.
Era modernist dipicu oleh revolusi industri yang berasal dari London, mungkinkah era kita, dimulai dari Silicon Valley?