10.3.13

Aestethics

Aesthetics (also spelled æsthetics) is a branch of philosophy dealing with the nature of artbeauty, and taste, with the creation and appreciation of beauty.[1][2] Wikipedia.org
Pada waktu kuliah saya diajarkan tentang Estetika Bentuk, yang mana mempelajari bagaimana menyusun komposisi bentuk sehingga menjadi indah. Sedangkan bagaimana memaknai keindahan itu sendiri diserahkan pada masing-masing mahasiswa untuk menafsirkannya. Kemudian ditransformasikan menurut persepsi dosen kedalam bentuk angka (nilai, score). Tidak ada seorangpun yang memberi tahu saya apa itu sebenarnya definisi keindahan. Padahal sejatinya keindahan menurut tiap-tiap orang itu berbeda. 

















Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, satu sama lain kita dapat saling terpengaruh berdasarkan pengalaman dari orang disekitar kita. Dahulu saya melihat lukisan Monalisa karya Leonardo Da Vinci dengan perasaan biasa saja, sama halnya dengan ribuan lukisan lain karya pelukis di zaman renaissance. Namun karena jutaan orang dan ribuan media di internet memberitakan lukisan Monalisa sebagai masterpiece, mau tak mau saya akan mempertanyakan persepsi saya sendiri, dan pada akhirnya saya akan menerima pandangan bahwa begitulah hal yang disebut indah. Dan mungkin untuk seterusnya saya akan menggunakan lukisan Monalisa sebagai tolok ukur untuk menilai lukisan yang lain. Namun sampai sekarang, saya tetap tidak terlalu tertarik dengan lukisan, mungkinkah persepsi tentang keindahan berkaitan dengan ketertarikan personal?


















Istri saya sering tidak habis mengerti ketika saya memuji-muji jembatan beton yang ada di Stockholm. Saya bisa mengerti kebingunan dia, karena dari kacamata orang awam, jembatan adalah jembatan, fungsinya ya untuk dilewati manusia dan kendaraan. Sepanjang fungsinya terpenuhi maka selesai. Sedangkan saya sudah sering kali berkunjung ke lokasi proyek yang menggunakan beton sebagai material, saya tahu bagaimana sulitnya membuat cor-coran beton yang rapih. Dinding beton di Stockholm hampir semuanya dibuat menggunakan bekisting (cetakan) kayu, sehingga memberikan tekstur organik yang indah. Beton sebagai material buatan, (tidak berbentuk, keras, dingin), namun memiliki tekstur kayu, (materi organik yang dapat berjamur, lapuk dan keropos). Sebuah ironi yang menimbulkan perasaan yang nikmat. Karena saya mengetahui hakikat dibalik sebuah material maka saya dapat mengapresiasi keindahannya. 

Menjadi seorang arsitek adalah bagaimana melatih sensibilitas. Sensibilitas dapat diartikan sebagai kepekaan terhadap lingkungan. Sensibilitas dapat dilatih dengan melakukan sketsa, fotografi, menulis blog atau puisi. Louis Kahn pernah ditanya oleh sesorang tentang apa yang dilihatnya dalam perjalanannya ke eropa di tahun 1928, dia menjawab kalau yang dia lihat adalah cahaya dan bayangan.





Seorang arsitek harus sering mengunjungi bangunan karya-karya arstitek lain yang telah dinilai baik, di Indonesia, di eropa atau dinegeri lain. Dengan melihat bangunan-bangunan ini membentuk persepsi kita mengenai bangunan yang baik itu seperti apa. Sebenarnya tidak hanya estetika, melainkan hal-hal lain juga. Tetapi mau tidak mau, suka atau tidak suka, lingkungan dan perjalanan hidup yang sudah kita lewati akan membentuk bagaimana kita mempersepsikan mata kita dalam memandang sesuatu. Makin banyak yang kita lihat dan kita rasakan akan memperlebar spektrum wawasan estetika kita. Dengan spektrum wawasan yang luas, pada akhirnya dapat meningkatkan variasi output desain yang dihasilkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar