2.3.13

In Praise of Shadow

Cover buku edisi UK yang saya pinjam dari perpustakaan kota Stockholm. Image courtesy of Amazon.com
Saya mengetahui tentang buku ini dari daftar bacaan wajib mahasiswa tahun pertama di Architectural Association, London. Kemudian saya beruntung menemukan buku ini di perpustakaan kota Stockholm. Untuk hitungan buku dengan judul yang berat, ternyata buku ini cukup ringan, hanya 56 halaman. Dan saya menemukannya di kategori filosofi!

Membaca buku ini membuat kita dapat membayangkan alam pikiran orang Jepang. Orang jepang sangat sensitif dengan material.

Di satu bagian tanizaki menerangkan bagaimana perbedaan orang barat dan orang timur dalam memandang batu berharga. Disatu sisi orang barat senang dengan kristal yang digosok hingga bercahaya, memancarkan sinar, sedangkan orang Jepang justru menyenangi batu kristal yang tidak murni, ada mineral-mineral didalamnya dan orang Jepang juga tidak mengasahnya sampai halus, melainkan mereka biarkan kasar, seperti proses alam yang membentuknya. 

Membaca buku ini membuat saya terbayang desain dari Super Potato. Interior desainer dari jepang yang banyak menggunakan material alami dalam desain restorannya.


Grand Hyatt Hotel Tokyo courtesy of Super Potato


Buku ini menceritakan bagaimana sensitifitas orang Jepang terhadap lingkungannya. Bagaimana dia terganggu dengan lantai keramik ala barat yang keras, dingin dan berkilap dibandingkan dengan lantai kayu ala rumah tradisional Jepang yang hitam, agak kotor dan berbau khas. Bagaimana sang penulis lebih memilih penerangan lilin yang temaram ketimbang lampu elektrik yang terang benderang. Karena hanya dibawah cahaya lilin, kualitas senenarnya dari ruangan, peralatan makan pernis (lacquareware) akan muncul kualitas keindahannya.

Kendati bukan seorang arsitek maupun desainer, Tanizaki banyak membicarakan elemen-elemen dari sebuah bangunan, interior, maupun desain produk semata-mata mengandalkan kepekaannya terhadap lingkungan yang dia tinggali sehari-hari.

Membaca buku ini akan membuat kita menengok pada diri kita sendiri. bagaimana kita melihat hubungan antara kebudayaan kita dengan kebudayaan barat. Apakah kita merasakan kerisauan yang sama dengan saudara tua kita?

tautan buku dijital: 
http://dcrit.sva.edu/wp-content/uploads/2010/10/In-Praise-of-Shadows-Junichiro-Tanizaki.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar