5.3.13

Memaknai Nō dan tradisi

Ketika membaca sebuah buku, saya senang ditemani Ipad. Karena ketika membaca tentang suatu tempat atau peristiwa, saya bisa langsung mencari gambarnya di browser. Ini sangat membantu saya dalam membentuk mental image dalam rangka memahami secara utuh pemikiran sang penulis.

Saya saat ini sedang membaca In Praise of Shadow, sebuah buku karya Junichirō Tanizaki. Dalam satu bagiannya Tanizaki membicarakan panjang lebar tentang keindahan seni theater tradisional dari Jepang yang bernama Nō. Kemudian saya jadi penasaran untuk cari di Youtube. Tidak habis pikir saya dimana letak keindahannya. Terlebih Tanizaki melukiskannya sampai memiliki daya tarik seksual.

Whenever I attend the Nō I am impressed by the fact that on no other occasion is the beauty of the Japanese complexion set off to such advantage -- the brownish skin with a flush of red that that is so uniquely Japanese, the face like old ivory tinged with yellow. (Tanizaki, Junichirō, In Praise of Shadow, p.37)

Kemudian di daftar video rekomendasi Youtube, saya menemukan video tentang tarian kontemporer Jepang. Disatu sisi, ada orang-orang yang masih menjalankan tradisi, namun disi lain ada orang-orang yang dengan bebas berekspresi, yang pada akhirnya diberi label seni modern. Saya jadi berpikir, seni tari dan teater sedikit banyak memiliki kemiripan dengan arsitektur. Setiap penari muda dihadapkan pada pilihan apakah meneruskan tradisi kebudayaannya ataukah berkreasi secara bebas?

Hegel percaya bahwa seni merupakan representasi dari kebudayaan pada saat seni tersebut dibentuk. Jika berpegang pada ini, maka seharusnya biarlah tradisi yang sudah lewat menjadi mati, jika memang harus demikian. Kita hidup pada masa sekarang seharusnya bisa belajar dari kebudayaan lampau untuk mensintesa produk-produk kebudayaan masa kini yang seyogyanya lebih unggul dari masa sebelumnya.

Akan tetapi salah satu hal yang mencirikan abad ini adalah diversitas. Kemajuan teknologi informasi menyediakan banyak alternatif wawasan bagi manusia untuk berkreasi, dan pada akhirnya menghasilkan produk kebudayaan yang sangat beragam. Tidak terkecuali dalam menyikapi tradisi. Pada akhirnya memang masing-masing orang akan menempaeti posisinya masing-masing. Ada yang menari tradisional dan ada pula yang menari modern, dan ada pula yang menari sekehendak hatinya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar